Di awan biru aku kaitkan angan,
Terpahat di dinding langit setiap baris,
Biarkan setiap hembusan angin yg lalu kan membaca,
Tingginya ku letakkan angan yang disulam,
Sedangkan mata sendiri tertutup dek silaunya mentari
Andai ku tahu bagaimana kata bahagia itu,
Akan ku tulis di setiap wajahmu,
Andai ku tahu tenangnya itu di mana,
Sanggup ku redah biar ku gapai untukmu,
Andai ku tahu sedih itu tiada penawarnya,
Kan ku jadi galang gantinya,
Biar yang ada cuma bahagia.
Aku mahu kau tersenyum,
Biar yang terbakar untuk menerangi itu aku,
Aku mahu kau tertawa,
Biar yang berdarah pekat itu aku,
Bukan pertama kali,
Aku mencinta separuh nyawa tapi sebenarnya aku mati,
Kisah yang kutulis kau pilih dia,
~Ilya Yasnorina Ilyas~
21 August 2016
Sunday, 21 August 2016
Friday, 19 August 2016
Puisi #Malam
Angin malam,
Membelah langit menyusuri kesunyian,
Sinarnya malam diterangi di balik sinar mentari..redup,
Malam makin larut..pejamkan matamu,
Mimpikan yang indah..biarkan kau tersenyum sendiri,
Betapa indahnya yang kau lalui,
Lupakan kejamnya dunia
Pejamkan matamu,
Esok kan ada hari yang baru untuk kau tempuh,
Biarkan dirimu terbuai indahnya khalayan mimpi,
Indah yang kau takkan rasa bila kau terjaga,
Serahkan ragamu pada Tuhan yang satu,
Mohon ditiup hembusan semangat,
Agar kau tidak menangis lagi,
Biar dunia menginjak dirimu ke tanah,
Bagai jiwa tak dikurnia rasa,
Namun diri tetap utuh berdiri,
Kau umpama srikandi buat diri.
Pejamkan matamu,
Malam kian sunyi,
Lepaskan lelahmu,
Biarkan gusarmu terlerai,
Pesankan pada diri,
Semuanya kan berlalu,
Selamat Malam
~Ilya Yasnorina Ilyas~
19 August 2016
Membelah langit menyusuri kesunyian,
Sinarnya malam diterangi di balik sinar mentari..redup,
Malam makin larut..pejamkan matamu,
Mimpikan yang indah..biarkan kau tersenyum sendiri,
Betapa indahnya yang kau lalui,
Lupakan kejamnya dunia
Pejamkan matamu,
Esok kan ada hari yang baru untuk kau tempuh,
Biarkan dirimu terbuai indahnya khalayan mimpi,
Indah yang kau takkan rasa bila kau terjaga,
Serahkan ragamu pada Tuhan yang satu,
Mohon ditiup hembusan semangat,
Agar kau tidak menangis lagi,
Biar dunia menginjak dirimu ke tanah,
Bagai jiwa tak dikurnia rasa,
Namun diri tetap utuh berdiri,
Kau umpama srikandi buat diri.
Pejamkan matamu,
Malam kian sunyi,
Lepaskan lelahmu,
Biarkan gusarmu terlerai,
Pesankan pada diri,
Semuanya kan berlalu,
Selamat Malam
~Ilya Yasnorina Ilyas~
19 August 2016
Thursday, 18 August 2016
Puisi #Bangkit
Bangkit,
Dari kisah semalam yang lelah,
Menunjal kepalamu hingga ke dinding,
Memijak hatimu hingga sesak bernyawa,,
Menekan dan menekan hingga kau tersadung.
Dunia,
Memaling tanpa bicara,
Mereka kata kau lah punca,
Mereka lihat kaulah pesalah yang harus dihukum,
Dunia,
Mengiyakan segala ceritera palsu,
Ciptaan manusia untuk kau,
Menutup segala kebusukan mereka
Bangkit,
Tinggalkan lukamu,
Keringkan airmatamu,
Bangun agar kau berdiri,
Walau kaki luka berjalan atas batu kerikil,
Bangkit,
Biarkan kejayaanmu menenggelam tohmah dunia,
Dunia kan tahu cerita itu palsu,
Dunia kan tahu apa itu benar,
Dunia akan diam memerhatikan kau,
Sampai masa mereka kan lupa,
Segala bohong tentang kau.
Bangkit,
Apa kau tunggu lagi,
Usah kau biar rasa sesak itu menyeksa lagi,
Sampai masanya kau pergi,
Demi perjuangan yang belum selesai
~Ilya Yasnorina Ilyas~
18 August 2016
Dari kisah semalam yang lelah,
Menunjal kepalamu hingga ke dinding,
Memijak hatimu hingga sesak bernyawa,,
Menekan dan menekan hingga kau tersadung.
Dunia,
Memaling tanpa bicara,
Mereka kata kau lah punca,
Mereka lihat kaulah pesalah yang harus dihukum,
Dunia,
Mengiyakan segala ceritera palsu,
Ciptaan manusia untuk kau,
Menutup segala kebusukan mereka
Bangkit,
Tinggalkan lukamu,
Keringkan airmatamu,
Bangun agar kau berdiri,
Walau kaki luka berjalan atas batu kerikil,
Bangkit,
Biarkan kejayaanmu menenggelam tohmah dunia,
Dunia kan tahu cerita itu palsu,
Dunia kan tahu apa itu benar,
Dunia akan diam memerhatikan kau,
Sampai masa mereka kan lupa,
Segala bohong tentang kau.
Bangkit,
Apa kau tunggu lagi,
Usah kau biar rasa sesak itu menyeksa lagi,
Sampai masanya kau pergi,
Demi perjuangan yang belum selesai
~Ilya Yasnorina Ilyas~
18 August 2016
Wednesday, 17 August 2016
Puisi #Hati Konkrit
Duhai lelaki,
Aku cuma mahu bagitahu,
Hati aku sudah menjadi batu,
andai dihenyak hati dan batu,
yang berderai itu batu
bukan hati.
Hati,
yang dulu lembut,
penuh rasa cinta,
dikoyak dilapah,
yang tinggal cuma luka dalam,
parut yang takkan padam..
Hati,
belum dikutip dinilai ada harga,
masih di sini menanti,
sebuah jawapan mencari sinar
Tanya pada diri,
apa salah hati,
yang ada cuma mimpi,
mimpi yang tak pasti,
mungkin hati,
kan terus terdampar menunggu mati
~Ilya Yasnorina Ilyas~
17 August 2016
~Ilya Yasnorina Ilyas~
17 August 2016
Tinta pertama
Platform baru untuk aku asah menulis. Tinta yang dah berkarat dan mungkin tak seperti dulu. Di sini lah aku namakan platform untuk aku muntahkan segala sandiwara yang berlegar dalam kehidupan. Mungkin juga tempat aku mengarut. Selamat datang.
Labiu labiu labiu dot insan sengih dot blogspot dot my
Bye.
Labiu labiu labiu dot insan sengih dot blogspot dot my
Bye.
Subscribe to:
Comments (Atom)